Langsung ke konten utama

Hadiah Terakhir



J
ari mulai menari di atas tut keyboard laptop. Masih di tempat yang sama. Di sebuah warung kopi kecil yang di tinggali sepasang kakek nenek yang ku lihat sangat serasi. Kadang terpikir sejenak, apakah aku nanti akan mendapatkan pasangan yang setia, sperti merka berdua yang selalu bersama hingga usia senja.
Mereka erdua ku anggap seperti kakek nenek angkatku. Hamper setiap hari aku duduk dan minum kopi disini. Suasananya sangat nyaman. Aku merasa betah sekali  berada di warung ini. Tepat di depan warung ada hamparan sawah hijau. Hanya ada sedikit yang membuat tidak serasi. Ada tempat pembuangan sementara sampah warga, namun itu dapat tertandingi dengan peman dangan hijau sawah.
Seharian pun aku betah menghabiskan waktu. Cukup dengan segelas kopi Cappucino kegemaranku.
Hujan turun sore ini. Bersamaan dengan turunya semangatku. Kopi pun sudah habis. Inginku menambah, tapi kumurungkan itu. Karena ku miris melihat isi dopet yang mulai menipis.
Kakek nenek angkat ku sering ku jadikan sebuah perbandingan hidup. Mereka seperti bahagia sekali menjalai hidup. Meski semua serba pas-pasan. Saling melengkapi. Saling mengisi. Saling menjaga.
Apa aku nanti akan seperti itu?
Entahlah hanya sebuah do’a permohonan yang dapat ku lakukan. Semoga nanti aku mendapatkan jodoh dan bertahan hingga akhir.
Hari ini hari sabtu, waktu menujukan jam 16:44. Dalam hati hanya berucap, untung sudah sholat ashar, tenang jadinya. Bisa bersantai lebih lama.
Hemmppp.
Teringat seseorang. Yang mungkin sakit hatinya oleh ku. Karena tak tahu apa alsannya aku meninggalkannya.
Pertama aku bertemu denganya di sebuah acara kampus, yang mengharuskan semua  mahasiswanya di karantina selama seminggu untuk membentuk karakter.
Selama seminggu hanya dia emua  mahasiswanya di karantina selama seminggu untuk membentuk karakter.
Selama seminggu hanya dia yang ku perhatikan. Dia lucu. Di beda. Dan aku suka dia.
Seminggu berlalu, bersamaan dengan erakhirnya acara. Dan aku belum kenal dia. Walaupun aku tahu namanya karena kami mengenalkan diri satu persatu pada hari pertama.
Namanya Sari, dari jurusan Psikologi. Dalam acara terseut memang semua jurusan di campur dalam satu kelas. Ada selipan dua huruf Rr, yang kata orang kalau ada yang seperti itu pasti keturunan dari kerajaan.
Sepulang dari acara langsung aku cari nomor handphonenya di kertas daftar nama satu kelas. Ketemu. Rasa ragu menghampiri. Apakah harus ku hubungi dia. Langsung saja tanpa ragu. Aku kirim pesan dia. Waktu berlalu,dia tidak membalas. Setengah hari berlalu. Malam hari baru dia membalas.

T: assalamu’alaikum
S: wa’alaikumussalam
T: ini benar sari kan,,??
S: iya benar, ini siapa ya,,?

Sampai di situ tidak aku balas. Karena aku gugup. Padahal cuman smsan.
Besoknya dia yang sms aku.

S: assalamu’alaikum. Maaf ini siapa ya..?
Bingung aku membalasnya. Jadi ku biarkan saja. Malam harinya baru aku balas.
T: wa’laikumussaalam. Ini Tri, teman satu klas p2kk kemarin.
S: oowh,,iya iya. Tri yang mana ya?

Gubrak. Jatoh deh gue dari tempat tidur. Dikirain tahu. P2KK adala nama acara yang diselenggarakan oleh kampus. Smsan masih berlanjut.

T: kamu mah gak bakalan tau.
S: bukannya gitu, mungkin aku aja yang kurang bergaul.

Nahhh ini dia salah satu alasan lagi kenapa aku bisa suka sama dia. Dia sangat rendah hati. Kami smsan hingga larut malam. Keesokan harinya dan bahkan hari-hari berikutnya dia yang sms aku duluan.
Pendekatanku berlangsung lancar-selancarnya. Kami bisa kenal satu sama lain makin jauh. Bahkan menanyakan soal keluarga. Saat ku Tanya tentang Rr yang ad di depan namanya. Ternyata benar, dia orang kerato jogja sana. Apa nak di kata, sedikit senang lah aku.
Yang dulu hanya berani sms, maka ku beranikan untuk menelpon. Kami sangat sering bertelponan. Membahas pembahasn yang belum di bahas. Ngomong ngalur ngidul.
Sebuah status teman biasa kini menjadi sahabat. Kata sahabat berreti kami semakin dekat dan tidak ada lagi ke tertutupan. Setiap masakah selalu kami bagikan. Salah satu yang tersentak untuk ku adalah saat dia bilang punya penyakit parah. Bahkan komplikasi.
Dia sering sekali terserang penyakit. Rasa khawatir sering sekali hinggap di fikiranku. Sepertinya rasa cinta mulai tumbuh di hatiku.
Ada kala suatu kejadian dia tak ada kabar, bahkan hingga dua hari. Khawatirku mulai tergejolak. Mencoba mencari tahu higga keteman-temannya. Hingga pada akhirnya dia dapat di hubngi lagi.

T: kenapa koq ngilang sihh?
S: gak koq, gak papa. Itu kebiasaan ku kalo lagi kebanyakan masalah. Gak kepengen di ganggu.

Itu juga salah satu sifat yang tidak aku suka darinya. Menghilang begitu saja.
Hari mulai gelap. Waktu menunjukan pukul 17:00. Nenek angkat ku sudah mulai membersihkan meja-meja di warung kopinya.  Hanya tarikan dan hembusan nafas pelan. Mengingat semua itu membuatku sakit dan menyesal.
Waktu berjalan cepat. Semakin dekat aku dengannya. Bahjkan aku sudah di perkenalkan kepada kedua orang tuanya. Aku merasa asing. Aku hanyalah orang biasa. Dia orang keturunan kerajaan.
Ada sebuah kejadian yang membuatku sedikit mengikis hati. Dia jatuh sakit. Betapa khawatirnya aku. Ku coba hubungi dia. Dia bilang masuk rumah sakit. Sakit yang ada di otaknya semakin parah dan dokter menyarankan harus oprasi.

T: segitunya sampe di minta oprasi
S: gak tau aku, mungjin udah parah banget. Kamu belajar lupain aku ya.
T: koq ngomgong kaya gitu sihh. Gak suka aku kalo kaya gitu. Positive thinking aja.
S: iya deh maaf.

Selalu saja begitu. Memang dia orangnya selalu putus asa.
Kabar baik datang. Keadaanya membaik. Dia di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Ada senang sih, tapi sedikit. Entah kenapa rasa fanatic ku padanya mulai pudar. Mungkin karena kehadiran seseorang yang dari dulu sangat ku kagumi dalam hidupku. Perhatianku terbagi dua.
Inilah kelemahanku. Biar pun aku mencoba mendekati perempuan lain, setiap aku bandingkan kepada seseorang itu. Maka semua akan kalah. She is my first love. Selamanya.
Aku tak pernah cerita tentang cinta pertama ku itu. Karena aku takut dia sakit hati. Karrena aku tahu bagaimana rasanya sakit hati itu. Masalah ini tak akan aku ceritakan padanya.
Jarak kami semakin renggang. Dan dia menyadarinya.

S: Tri, kamu gak kenapa-kenapa kan?
T: aku gak papa koq,
S: kamu kok kaya berbeda gitu. Gak kaya dulu lagi.
T: tahu dari mana, aku sama aja perasaan.
S: kamu gak seceria dulu. Sms dari kamu gak pernah lagi ad emotikonnya.

Aku kaget. Dia bisa menyadiranya sejauuh itu. Mungkin dia sudah mulai suka pada ku.

T: aku gak papa kok Sar :D
S: hemm,,ya udah kalo gitu. Kamu jaga kesehatn ya.
T: kamu tuh yang harusnya jaga kesehatan hehe
S: hehe iya. J. Aku tidur dulu ya. Assalamu’alaikum
T: iya deh. Wa’alaikumussalam. J

Smsan itu waktu malam hari. Memang kami paling sering smsan di malam hari. Terkadang saja kami smsan pagi atau sore.
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Waktu hidupku di dunia semakin berkurang. Bersamaan rasa ku kepadanya. Entah kenapa. Mungkin ini yang dinamakan rasa yang timbul hanya karena pandangan pertama.
Aku semakin jarang menghubunginya, bahkan sengaja menghilang. Dia yang selalu menghubungiku terlebih dahulu. Ada rasa bersalah yang timbul pada diriku. Rasa salah mengapa aku sperti member peluang kepadanya. Aku memang jahat.
Padahal banyak rencana yang akan kami akukan bersama. Itu terkadang aku anggap seperti janjiku padanya. Dan janji-janji itu sekarang menghantuiku. Aku takut. Tapi aku tidak pernah berkata berjaju padanya.
Kulihat kembali jam di sisi pojok kanan bawah laptop. Tertulis jam 17:25. Sudah hamper magrib. Ku hentikan tarian jari ku di laptop. Beranjak ku dari tempat duduk dan berjaan ke dalam warung kopi kakek nenek angkatku untuk pamit pulang. Dan yang pasti membayar segelas kopi dan sepiring mie rebus yang sudah ku santap tadi.
Ku berjalan tuk pulang.
Tubuh mulai lunglai dimakan lelah. Beban tas ransel yang semakin berat memaksa tubuh untuk membawa. Sesampainya ku di kamar, tidak lain tidak bukan hanya laptop berwarna silver yang selama ini menemaniku. Ku pencet tombol power di bagian pojok kanan atas untukk menghidupkan laptop.
Adzan magrib sudah berkumandang. Ku tinggalkan sejenak laptop yang menyala untuk beribadah menghadap sang Maha Pencipta. Tuhan yang Maha Esa. ALLAH swt.
Semua sudah ku lakukan semamu yang ku bisa. Semua sudah ku ikhlaskan seikhlas yang ku bisa. Hamba hanya bisa berserah kepada takdir yang Engkau berikan Ya ALLAH swt.
Sajadah dan sarung kembali ku lipat dank u masukan dalam leari kecil yang sudah di sediakan oleh pemilik kos. Kembali ku menghadap cahaya lampu monitor laptop.
Semua serasa cepat.

S: assalamu’alaikum.
T: wa’alaikumussalam.
S: gimna kabar kamu Tri?.
T: Alhamdulillah baik. Kayak gak pernah ketemu lama aja nanya kabar. Kamu gimana?.
S: hehe. Alhamdulillah baik Tri. Kata dokter ke adaan ku mulai membaik. Mungkin ini berkat kamu Tri. J
T: lho..??. koq bisa aku.
S: iya. Kamu bisa buat aku seneng terus. Kamu bagai malaikat.
T: ah,,bisa aja kamu. Bukan aku. Bersyukurlah sama ALLAH, hehe
S: iya Tri. J

Hubungan kami masih berjalan lancar. Dan masih dalam status sebagai sahabat. Aku tidak ingin lebih dari itu. Alasanku tetap sama. Aku tidak mau menyakiti hatinya.
Masih dalam situasi yang sama. Aku mengenangnya. Merasa bersalah dengan keputusan yang ku perbuat. Itu pasti menyakiti hatinya. Tidak ku sangka hanya lewat komunikasi handphone aku bisa menarik perhatiannya. Bahkan meluluhkan hatinya.
Memang benar aku sengaja melakukannya. Tapi aku terkadang bingung dengan apa yang telah ku putuskan. Di satu sisi hati ku berkata aku suka dengan dia, aku sayang dengannya. Tapi disisi lain aku bingung. Penyebabnya masih sama, aku memikirkan seseorang yang dimana dia mengembalikan rasaku yang memeang dari dulu menyukaianya. Dia tahu atau tidak, aku pun tidak tau.
Ingin ku  mengatakan semua kebenarannya, ingin ku katakan padanya untuk jangan terlalu tertartarik padaku itu akan membuat dia terluka saja. Sebuah pemikiran yang berat untukku.
Kabar tak enak tiba-tiba dating, dia bilang dia akan oprasi. Aku tidak tahu penyakit apa yang sebenarnya yang ia derita. Pada situasi ini menambah kebingunganku. Aku khawatir, bahkan sangat khawatir padanya. Sebenarnya rasa apa ini.
Baru beberapa hari ku tanyakan kabarnya, dan dia bilang baik-baik saja. Sifat berbohong untuk menutupi keburukannya. Aku tidak suka itu. Aku mulai malas meladeninya. Namun rasa khawatirku tidak hilang.
SMS datang.

S: Tri, boleh nelpon gak?
T: Boleh kok sar, ada apa memangnya sar?
S: aku pengen denger suara kamu aja koq sebelum oprasi.
T: Iya, tpi bentar ya,, soalnya masih dijalan. Masih diangkot.
S: Iya.

Baru beberapa menit aku ada di angkot. Dia menelpon. Aku reject dank u kirim pesan ‘aku masih di angkot’. Sampai di terminal tujuan aku telpon dia.

T: Assalamu’alaikum. Halo.
S: Wa’alaikumussalam. Iya hehe
T: Gimana?. Dimnana sekarang?.
S: Gak gimana-gimana koq. Udah di Surabaya ini. Koq kaya ada suara motor ya.
T: Hehe,,iya masih dijalan ini ke kos. Bentar lagi sampe kok.
S: oalah,,maaf ya ngerepotin..
T: Gak sama sekali kok.
S: Tri,,
T: Iya.
S: Aku takut.
T: Lo,,!! Takut kenapa?
S: Aku takut besok oprasinya, kepalaku bakalan di belah. Kalau oprasinya gagal gimna?
T: Husstt..gak boleh ngomng kaya gitu. Tenang,, pasti berhsil kok. Dokternya kan professional, jadi gak bakalan hal-hal yang kamu kira. Berfikir positif aja.

Entah kenapa aku serasa ingin menangis, hati juga serasa ikut takut. Takut kalau dia kenapa-kenapa. Takut kalau semisal oprasinya gagal. Arrrrggggggg…!!!!
Masih lanjut nelpon.

S: Iya tri. Aku coba itu. Maksih ya Tri untuk selama ini.
T: (seperti kata-kata perpisahan saja, aku makin khawatir).  Kok ngomongya gitu. Kaya orang mau pergi aja.
S: Hehe. Maaf Tri. Oo iya. 4 hari ini nomor bakalan off, soalanyakan ada oprasi jadi kamu gak bisa kirim pesan ataupun nelpon.
T: Hemmp. Iya deh. Aku tunggu sampe 4 hari itu.
Kami ngobrol hinga larut malam. Tertawa bercanda. Hingga pulsa masing-masing habis. Hingga semua terkantuk-kantuk.
T: Udahan aja dulu ya. Besokan kamu oprasi, jadi harus istirahat.
S: Iya Tri, kamu juga ya istirahat.
T: Iya-iya pasti kalau itu mah. Ya udah kalu begitu. Assalamu’alaikum.
S: Iya. Wa’alaikumussalam.

Mulai tarik nafas. Mulai kefikiran. Pastinya aku sangat khawatir. Banyak pertanyaan muncul di kepalaku. Apakah dia akan berhasil?. Apa dia akan baik-baik saja?. Ingin rasanya ku kesana dan menemaninya. Bagaimana kalau tidak berhasil???. Arrrrrrgggggg,,,,,jauhkan fikiran negative,,
Fikiranku malam itu beerputar,,tak bisa ku tidur,,trfiirapa yang akan terjadi besok. Dia akan oprasi. Ku cari kegiatan lain untuk menghilangkan fikiran negative tentangnya hingga akhinya ku ter tidur.
Hufft,,perut sudah mulai keroncongan. Ku lihat jam yang kugantung di dekat jendela. Sudah jam 20.00. sudah jam malam langsung saja ku tinggal kan lagi lampu monitar dan tut keyboard yang dari tadi menemaniku untuk cari pasokan energi. Makan.
Lorong kos-kosan mulai gelap dan hening. Padahal baru jam delapan malam tapi sudah sepi begini. Sudahlah masuk kamar aja lanjut apa yang aku kerjakan. Kembali ku bertatapan dengan monitor laptopku. Jari ku mulai menari kembali.
Pagi yang tidak seperti biasanya. Semua kegiatan serasa beda, mungkin karena ku kepikiran akan oprasi yang akan dilaksnakna hari ini. Padahal bukan aku yang oprasi, tapi aku ikut takut. Aku sangat khawatir padanya. Aku hanya bisa berdo’a agar semua nya lancar.
Jam pelaksanaan oprasi sudah lewat. Apa oprasinya berhasil?. Apa dia baik-baik saja?. Sekali lagi, aku hanya bisa berdo’a untuk keselamatannya.
Hari ini semua berjalan serasa berat sekali. Berat akan fikiranku yang terus menuju ke dia. Aku hanya berdiam diri dikamar. Ingin rasanya mengirim pesan namun percuma. Nomornya tidak akan aktif empat hari kedepan.
Dua hari sudah terlewati, hanya tinggal dua hari lagi aku akan mengetahui kabarnya, baagaimana oprasinya. Tapi, tiba-tiba saja ada pesan datang dari dia. Kaget sekaligus heran. Bukannya masih dua hari lagi dia bilang baru bisa dihubungi. Lagi pula bukannya dua hari yang lalu diakan oprasi emang bisa gitu ngetik buat ngirim pesan. Sudahlah yang penting kan dia udah ngirim pesan berarti dia bai-baik saja.

S: Assalamu’alaikum.
T: Wa’alikumussalam. Lo bukannya masih dua hai laga ya.
S: Alhamdulillah Tri, aku tidak jadi oprasi yang bedah. Hanya oprasi menggunakan laser. Jadi hanya  sebentar, ini aku sudah di maksar. Aku ikut layar sama ayah. Satu keluarga.

Aku hanya terkejut membaca pesan itu. Ini maksudnya apa, katanya oprasi koq sudah ada di makasar berlibur lagi. Bukannya berlayar menggunakan kapal tu memakan paling tidak satu hari kesana. Membingungkan.

T: Emm,, maksudnya gimana sih. Dilaser gimana??
S: Iya ini oprasinya hanya di laser dari luar, aku juga gak paham di apain. Yang pasti aku sekarang 
seneng banget di ajak ke makasar. Kamu mau oleh-oleh apa nih?

Fikiran negative mulai datang, apa mungkin dia berbohong soal dia oprasi. Ahhh!!,,fikiran ku mulai kacau. Langsung ku buang jauh-jauh fikran itu. Yang terpenting dia baik-bai saja.

T: Oalah,,gak usah repot-repot bawain oleh-oleh segala.
S: Gak, gak ngerepotin sama sekali kok. Beneran ini.
T: Terserah kamu aja deh kalau gitu.

Pembicaraan kami hanya sampai di situ. Fikiran ku mulai melayang kembali ke permasalahan dia oprasi tapi tiba-tiba saja sudah di Makasar. Menggunakan kapal lagi. Menurut logika ku gak mungkin dia akan sempat oprasi.
Suatu ketika aku keluar rumah untuk berniat ke mesjid depan. Dan tiba-tiba saja  dia sudah ada di belakangku dan memberikan hadiah atau bisa di sebut oleh-oleh dari dia jalan-jalan ke Sulawesi. Rasaku tak ada lagi.
Sejak saat itu perasaan ku padanya mulai terkikis, sedikit demi sedikit. Mungkin ini karena rasa ketidak terimaan ku atau entah ada yang membisiku untuk meninggalkannya.
Sejak hari itu juga aku mulai meninggalkannya, mulai malas untuk berhubungan dengannya. Seluruh pesan darinya bahkan tidak pernah lagi ku balas. Dan dia mulai curiga.pertanyaan demi pertanyan terus mengalir darinya.
“ kamu gak papa kan?”
“ kamu kenapa sih?”
“ maafin aku kalau aku punya salah,,”
“Tri kamu kenapa sih,, aku jawab gak pernah kamu bales,??”
Semua pertanyaan dan pernyataan itu ku biarkan saja, aku tak punya alasan apa-apa lagi. Entah mengapa aku menigngalkan dia begitu saja. Rasa ku ku sudah habis teerkikis dengan rasa ketidakpercayaan ku padanya.
Sekarang ku menghilang dan dia mulai menyerah untuk bertanya padaku. Mungkin dia mulai kesal padaku karna tidak pernah menjawab pertanyaannya. Itu memang sengaja kulakukan. Untuk membuat dia benci padaku.
Beriringan dengan aliran sungai waktu bersamaan dengan menghilangnya dia dan aku menghilang dari dia.
Sekarang disaat kami bertemu. Kami sperti tidak pernah kenal. Seperti orang lain yang hanya kebetulan saja berpapasan di kampus.
Dan hadiah yang di berikannya padaku menjadi hadiah terakhir darinya. Bahkan hingga saat ini tak pernah ku kenakan.
 _Rampung_Selesai_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persyaratan Menjadi Tentara Brigade Izzuddin Al Qassam ( HAMAS ) Palestina

  Proses Pendaftaran  Alhamdulillah masih di beri kesehatan oleh Alloh SWT,dan kali ini saya ingin mengupas lagi tentang Brigade Izzuddin Al Qassam yang menurut saya sangat menarik perhatian umat Islam karena mereka memiliki mental baja yang berebut menjemput Syahid tapi ber Akhlak mulia dan penuh kasih sayang kepada sesama hal ini berbeda dengan gerakan islam lainya yang kadang sangat bertentangan dengan nilai- nilai Islam dan bahkan menjadi teror dan penhancur islam dari dalam.     Latihan Militer mungkin kita di buat penasaran bagaimana sih kok Hamas bisa melahirkan pejuang penjuang tanggu lewat sayap Militernya Brigade Izzuddin Al Qassam.kali ini saya akan membahas perekrutan untuk menjadi tentara di Brigade Izzuddin Al Qassam. Meskipun untuk menjadi dan bergabung di brigade Izzuddin Al Qassam tidak di bayar akan tetap banyak para pemuda palestina terutama di Gaza yang berbondong bondong untuk mendaftar menjadi bagian dari Al Qassam, Ha...

Sejarah Singkat Universitas Muhammadiyah Malang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berdiri pada tahun 1964. merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah.  Pada waktu itu UMM baru membuka 3 fakultas, yaitu:Hukum, Ekonomi   dan FKIP (jurusan Pendidikan Agama Islam).  Selanjutnya, pada periode tahun 1968-1975,  UMM membuka lagi 2 fakultas, yaitu: FSIP dan Fak. Agama Islam.  Pada periode tahun 1975-1977, UMM kembali membuka 2 fakultas baru, yaitu: Pertaniandan Teknik.  Jumlah fakultas masih tetap sama hingga tahun 1983.  Baru pada periode tahun 1983-2000, beberapa fakultas baru dikbuka, yaitu: Psikologi, Peternakan, Program D3 Keperawatan dan Kedokteran.  Tahun 2007 ini, UMM kembali membuka fakultas baru, yaitu: PS Farmasi yang merupakan bagian dari fakultas ilmu-ilmu kesehatan.  Pada tahun 2009, pimpinan UMM melakukan penggabungan Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan-Perikanan menjadi Fakultas Pertanian dan Peternakan agar sesuai dengan konsorsium Ilmu-ilmu Pertanian. Sebag...

PATI UMM IT : Use of Information Technology to Improve the Quality of Health Care in the United States

Introduction In 1969, when the Internet was known as the DARPAnet and the World Wide Web was nothing more than a glint in a creative student’s mind, the Agency for Healthcare Research and Quality funded its first project in medical informatics. 1 Since then, the Agency has continued to support research and development projects in the use of information technology to improve health care, awarding $250 million dollars to fund more than 150 projects in medical informatics. Today, the Agency is still blazing this technology trail with projects that seek to develop the knowledge and tools needed to improve the quality of care in the U.S. health care system. Background In 1998, the Committee on the Quality of Health Care in America, established within the Institute of Medicine (IOM), was asked to identify strategies for improving the quality of health care in the United States. As part of this effort, the committee published a seminal report in March 2001, Crossing ...